Newest Post
// Posted by :Unknown
// On :Rabu, 16 April 2014
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
IPS merupakan suatu program pendidikan dan bukan
sub-disiplin ilmu tersendiri,sehinnga tidak akan ditemukan baik dalam
nomenklatur filsafat ilmu,displin ilmu-ilmu sosial (social science) maupun
Pendidikan sosial(Social Studies).Social Science Education Council (SSEC) dan
National Council Social Studies (NCSS), menyebut IPS sebagai social science dan
Social studies. Dengan kata lain, IPS mengikuti cara pandang yang bersifat
terpadu dari sejumlah mata pelajaran seperti : geografi, ekonomi, ilmu
politik,ilmuhukum, sejarah, antropologi, psikologi, sosiologi dan sebagainya.
Dengan
istilah bahwa IPS bisa dapat diartikan sebagai Social Science dan Social
Studies. Maka dari itu kami akan mengupas pernyataan berikut serta memberikan
perbedaannya.
2. Kompetensi Dasar
Mahasiswa-mahasiswi mampu memahami IPS sebagai ilmu sosial dan kajian
sosial.
3. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat diambil
rumusan makalah sebagai berikut:
1. Bagaimana konsep
dasar IPS?
2. Bagaiman
pengertian IPS sebagai Social Studies dan Social Science?
3. Apa perbedaan
antara social studies dan social science?
4. Bagaimana Ruang
Lingkup dan Tujuan pendidikan IPS sebagai program pendidikan?
4.Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Tujuan Formal
a. Memenuhi
tugas yang diberikan oleh Bapak Abdul Aziz, S.Th.I, M.Pd.I
dalam mata kuliah IPS.
b. Menjelaskan
ruang lingkup dan tujuan pendidikan IPS.
c. Menjelaskan
IPS sebagai sebagai Social Science dan Social Studies.
d. Mengetahui
perbedaan antara social science dan social studies.
BAB II
PEMBAHASAN
A. IPS sebagai
Ilmu Sosial (Social Science) dan Sebagai Kajian Sosial (Social Studies)
Sebelum kita mempelajari IPS sebagai ilmu sosial (social science) dan Sebagai Kajian Sosial (Social Studies),
kami para penulis jelaskan terlebih dahulu pengertian tentang IPS (Ilmu Pengetahuan
Sosial)
1.
Pengertian
IPS ( Ilmu Pengetahuan Sosial )
Istilah ilmu pengetahuan sosial sebagaimana dirancang dalam
draf kurikulum 2004 memang membingungkan untuk dicarikan definisinya, karena
dalam berbagai literatur, baik yang ditulis oleh ahli dari luar maupun dalam
negeri, kita hanya mempunyai istilah ilmu pengetahuan sosial yang merupakan
terjemahan dari social studies. Sedangkan nama IPS
dalam dunia pendidikan dasar di negara kita muncul bersamaan dengan
diberlakukannya kurikulum SD, SMP dan SMU tahun 1975
Dilihat dari sisi keberlakuannya, IPS disebut sebagai bidang studi “baru”,
karena cara pandangnya bersifat terpadu. Hal tersebut mengandung arti bahwa IPS
bagi pendidikan dasar dan menengah merupakan hasil perpaduan dari mata
pelajaran geografi, ekonomi, ilmu politik, ilmu hukum, sejarah, antropologi,
psikologi, dan sosiologi. Perpaduan ini disebabkan mata pelajaran tersebut
memiliki objek material kajian yang sama yaitu manusia.
Bagi
sekelompok kecil ahli pendidikan di Indonesia, sebenarnya telah memakai istilah
IPS dalam pertemuan-pertemuan ilmiah, jauh sebelum diberlakukannya kurikulum
1975. Nama-nama yang dipergunakan dalam kesempatan ini bermacam-macam, antara
lain ada yang memakai istilah Studi Sosial yang dekat dengan istilah aslinya,
ada pula yang menyebutnya dengan Ilmu-Ilmu Sosial dan ada pula yang
menamakannya Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Namun sejak tahun 1976 nama IPS
telah menjadi nama baku. Harus diakui bahwa ide IPS berasal dari literatur
pendidikan Amerika Serikat. Nama asli IPS di Amerika Serikat adalah “Social
Studies”. Istilah tersebut pertama kali dipergunakan sebagai nama
sebuah Komite yaitu “Committee of Social Studies” yang
didirikan pada tahun 1913. Tujuan dari lembaga itu adalah sebagai wadah
himpunan tenaga ahli yang berminat pada kurikulum Ilmu-ilmu Sosial di tingkat
Sekolah Dasar dan Menengah, dan ahliahli Ilmu-ilmu Sosial yang mempunyai minat
sama. Nama Komite itulah yang kemudian dipergunakan sebagai nama kurikulum yang
mereka hasilkan. Meskipun demikian nama “Social Studies” menjadi
makin terkenal pada tahun 1960-an, ketika pemerintah mulai memberikan dana
untuk mengembangkan kurikulum tersebut.
Pada
waktu Indonesia memperkenalkan konsep IPS, pengertian dan tujuannya tidaklah
persis sama dengan Social Studies yang ada di Amerika Serikat.
Mengapa demikian? Karena kondisi masyarakat Indonesia memang berbeda dengan
kondisi masyarakat Amerika Serikat. Ini mengisyaratkan adanya
penyesuaian-penyesuaian tertentu. Sebenarnya keadaan ini sangat baik, karena
setiap ide yang datang dari luar kita terima kalau memang sesuai dengan kondisi
masyarakat kita.
Mulyono
Tj. memberi batasan IPS bahwa IPS sebagai pendekatan
interdisipliner (Inter-disciplinary approach)(antar
cabang ilmu pengetahuan) dari pelajaran Ilmu-ilmu sosial. IPS merupakan integrasi
dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial, seperti sosiologi, antropologi budaya,
psikologi sosial, sejarah, geografi, ekonomi, ilmu politik, dan
sebagainya.
IPS merupakan hasil kombinasi atau hasil pemfusian atau perpaduan dari
sejumlah mata pelajaran seperti geografi, ekonomi, sejarah, antropologi, dan
politik. Mata pelajaran tersebut mempunyai ciri-ciri yang sama, oleh karena itu
dipadukan menjadi satu bidang studi yaitu Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).
Dengan demikian jelas bahwa IPS adalah fusi dari disiplin ilmu-ilmu sosial.
Pengertian fusi di sini berarti bahwa IPS merupakan suatu bidang studi utuh
yang tidak terpisah-pisah dalam kotak-kotak disiplin ilmu yang ada. Artinya,
bahwa bidang studi IPS tidak lagi mengenal adanya pelajaran geografi, ekonomi,
sejarah secara terpisah, melainkan semua disiplin tersebut diajarkan secara
terpadu. Dalam kepustakaan kurikulum pendekatan terpadu tersebut dinamakan
pendekatan “broadfield”. Dengan pendekatan tersebut batas
disiplin ilmu menjadi lebur, artinya terjadi sintesis antara beberapa disiplin
ilmu.
Dengan
demikian sebenarnya IPS berinduk kepada ilmu-ilmu sosial, dengan pengertian
bahwa teori, konsep, prinsip yang diterapkan pada IPS adalah teori, konsep dan
prinsip yang ada dan berlaku pada ilmu-ilmu sosial. Ilmu sosial dengan bidang
keilmuannya dipergunakan untuk melakukan pendekatan, analisis, dan menyusun
alternatif pemecahan masalah sosial yang dilaksanakan pada pengajaran IPS.
2.
Ruang Lingkup
Pendidikan IPS
Secara mendasar, pembelajaran IPS berkenaan dengan
kehidupan manusia yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhannya. IPS
berkenaan dengan cara manusia memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan untuk
memenuhi materi, budaya dan kejiwaannya. Selain itu memanfaatkan sumber daya
yang ada dipermukaan bumi, mengatur kesejahteraan dan pemerintahannya maupun
kebutuhan lainnya dalam rangka mempertahankan kehidupan masyarakat manusia.
IPS mempelajari, menelaah, dan mengkaji sistem
kehidupan manusia di permukaan bumi ini dalam konteks sosialnya atau manusia
sebagai anggota masyarakat. Dengan pertimbnagan bahwa manusia dalam konteks
sosial demikian luas, pengajaran IPS pada jenjang pendidikan harus dibatasi
sesuai dengan kemampuan peserta didik tiap jenjang, sehinnga ruang lingkup
pengajara IPS pada jenjang pendidikan dasar berbeda dengan jenjang pendidikan
menengah dan pebdidikan tiggi.
Pada jenjang pendidikan dasar, ruang lingkup
pengajaran IPS dibatasi sampai pada gejala dan masalh sosial yang dapat
dijangkau pada geografi dan sejarah. Terutama gejala dan masalah sosial
kehidupan sehari-hari yang adadilingkingan sekitar peserta didik SD/MI. Pada
jenjang pendidikan menengah, ruang lingkup kajian diperluas. Begitu juga pada
jenjang pendidikan tinggi meliputi bobot dan keluasan materi dan kajian semakin
dipertajam dengan berbagai pendekatan. Pendekatan interdisipliner atau
multidispliner dan pendekatan sistem menjadi pilihan yang tepat untuk
diterapkan karena IPS pada jenjang pendidikan tinggi menjadi sarana melaatih
daya pikir dan daya nalar mahasiswa secara berkesinambungan.
Sebagaiman telah dikemukakan diatas, bahwa yang
dipelajari IPS adalh manusia sebagai anggota masyarakat dalam konteks
sosialnya, ruanag lingkup kajian IPS meliputi:
Subtansi
materi ilmu-ilmu sosial yang bersentuhan dengan masyarakat.
Gejala,
masalah, dan peristiwa sosial tentang kehidupan masyarakat.
3. Tujuan Pendidikan IPS
Tujuan IPS adalh sebagai berikut:
Mengajarkan konsep-konsep dasar
sosiologi, geografi, ekonomi, sejarah, kwarganegaraan, pedagogis, dan psikologis.
Mengembangkan keemampuan berpikir kritis
dan kreatif, inkuiri, memecahkan masalah, dan ketrampilan sosial.
Membangun komitmen dan kesadaran terhadap
nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
Meninggkatkan kemampuan bekerjasama dan
berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, baik secara nasional maupun global.
Sejalan dengan tujuan tersebut tujuan IPS menurut
Nursid Sumaatmaja adalah “ Membina anak didik menjadi warga negara yang
baik,yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian sosial yang
berguna bagi dirinya serta bagi masyarakat dan negara”. Sedangkan secara rinci
Oemar Hamalik merumuskan tujuan pendidikan IPS berorientasi pada tingkah laku
para siswa, yaitu:
1. Pengetahuan dan
pemahaman.
2. Sikap hidup
belajar.
3. Nilai-nilai
sosial dan sikap.
4. Dan
keterampilan.
Tujuan utama pengetahuan sosial ialah untuk
mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap maszlah sosial yang
terjadi di masyarakat,memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala
ketimpangan yang terjadi,dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi
sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat.
Tujuan tersebut dapat dicapai manakala program-program pelajaran IPS di sekolah
di organisasikan secara baik.
B. Pengertian IPS sebagai Ilmu Sosial (Social Science)
1. Pengertian Ilmu Sosial (Social Science)
Dari sisi bahasa, ilmu sosial berasal dari bahasa Inggris social science.
Kata social berarti sosial sedang kata science bermakana ilmu. Dengan demikian,
secara literal social science mempunyai makna ilmu sosial. Dari sisi istilah,
sampai saat ini belum terdapat kesatuan pendapat dan rumusan yang jelas di
antara para ahli berkenaan dengan batasan atau pengertian social science
(ilmu-ilmu sosial).
Achmad
Sanusi memberikan batasan tentang ilmu Sosial sebagai
berikut “Ilmu sosial terdiri dari disiplin-disiplin ilmu pengetahuan sosial
yang bertaraf akademis dan biasanya dipelajari pada tingkat perguruan tinggi
yang makin lanjut dan makin ilmiah”. Sedangkan menurut.
Gross ilmu sosial merupakan disiplin intelektual
yang mempelajari manusia sebagai makhluk sosial secara ilmiah serta memusatkan
pada manusia sebagai anggota masyarakat dan pada kelompok atau masyarakat yang
ia bentuk.
Selanjutnya Nursid Sumaatnadja ,menyatakan
bahwa ilmu sosial adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku
manusia baik secara perorangan maupun tingkah laku kelompok. Oleh karena itu
ilmu sosial adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan mempelajari
manusia sebagai anggota masyarakat.
Ada bermacam-macam aspek tingkah laku manusia dalam masyarakat, seperti
aspek ekonomi, sikap, mental, budaya, dan hubungan sosial. Studi khusus tentang
aspek-aspek tingkah laku manusia inilah yang menghasilkan ilmu sosial, seperti
ekonomi, ilmu hukum, ilmu politik, psikologi, sosiologi, dan antropologi. Jadi
setiap bidang keilmuan itu mempelajari salah satu aspek tingkah laku manusia
sebagai anggota masyarakat. Ekonomi mempelajari aspek kebutuhan materi,
antropologi mempelajari aspek budaya, sosiologi mempelajari aspek hubungan
sosial, psikologi mempelajari aspek kejiwaan, demikian pula bidang keilmuan
yang lain. Sedangkan yang menjadi obyek materialnya adalah sama, yaitu manusia
sebagai anggota masyarakat.
Sebagai panduan memahami masalah tersebut, di sini dikemukakan beberapa
batasan atau pengertian social science.
• The social
science is the study of the group life of man. The social scientist is
interested in all the form which human relationships take in organized groups.
• The social
sciences are these subjects that relate to the origin, organization and
development of human society, especially, to man and his association with other
man.
v Social sciences:
1. the branch of knowledge that deal with human society or its
characteristic elements, as family, state, or race, and with the relation and
well being as a member of an organized community.
2. one of a group of sciences dealing with special phases of human
society, such as economics, sociology, and politics.
3. a term some times applied to the scholarly matrials concern with the
detailed, systematic, and logical study human being, and their interrelation.
Dari batasan-batasan tersebut dapat disimpulkan bahwa ilmu-ilmu sosial
adalah ilmu yang mempelajari segala aspek kehidupan masyarakat, problem-problem
dalam masyarakat, serta bertujuan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat pada
umumnya. Senada dengam kesimpulan tersebut, Mukmina (2008 : 7)
mendefinisikan ilmu sosial sebagai ilmu yang bidang kajiannya berupa tingkah
laku manusia dalam konteks sosialnya. Termasuk dalam ilmu sosial adalah
geografi, ekonomi, sejarah, sosiologi, antropologi, psikolog, dan ilmu politik,
yang pada umumnya merupakan hasil kebudayaan manusia.
2. Pengertian IPS sebagai Ilmu Sosial (Social Sciences)
Terdapat
banyak pengertian IPS yang diberikan oleh para ahli. Diantara pendapat tersebut
diuraikan berikut.
·
Menurut
Nasution (1975), IPS adalah bidang studi yang merupakan fusi atau paduan sejumlah
mata pelajaran sosial. Dapat juga dikatakan bahwa IPS merupakan mata pelajaran
yang menggunakan bagian-bagian tertentu dari ilmu sosial.
·
Kurikulum 1975
mendefinisikan IPS sebagai bidang studi merupakan panduan atau fusi dari
sejumlah mata pelajaran sosial.
·
IPS adalah
bidang studi yang menghormati, mempelajari, mengolah dan membahas hal hal yang
berhubungan dengan masalah-masalah human relationship hingga benar-benar dapat
dipahami dan diperoleh pemecahannya. Penyajiannya harus merupakan bentuk terpadu
dari berbagai ilmu sosial yang telah terpilih, dan disederhanakan sesuai dengan
kepentingan sekolah-sekolah. (Pedoman IPS-IKIP Surabaya)
·
Tjokrodikarjo
(1982) mendefinisikan IPS sebagai perwujudan dari suatu pendekatan
interdisiplin dari ilmu-ilmu sosial. Ia merupakan integrasi berbagai cabang
ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi budaya, psikologi, sejarah,
geografi, ekonomi, ilmu politik dan ekologi manusia. IPS dipolakan untuk
tujuan-tujuan instruksional dengan materi sederhana, menarik, mudah dimengerti
dan dipelajari.
Dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan, bahwa IPS adalah
pelajaran atau bidang studi yang merupakan fusi (paduan) dan integrasi ilmu.
Ilmu sosial yang dikemas dengan materi yang sederhana, menarik, mudah dimengerti
dan dipelajari untuk tujuan instruksional di sekolah.
Latar belakang dimasukkannya IPS pada kurikulum sekolah di Indonesia (SD/
MI, SMP, dan SMU) berbeda dari hal serupa di Inggris dan Amerika. Perkembangan
sekolah di Indonesia terjadi akibat penyelenggaraan sekolah formal selama masa
penjajahan. Oleh karenanya, materi pelajaran di sekolah kebanyakan merupakan
kelanjutan dari kurikulum pendidikan warisan Belanda dan Jepang.
C. IPS sebagai Kajian Sosial (Social Studies)
1.Pengertian Kajian Sosial (Social Studies)
Kajian sosial (social studies) pada dasarnya sama dengan ilmu pengetahuan
sosial. Dalam sejarahnya, social studies berasal dari Amerika, yang berpenduduk
multiras dan budaya, sebagaimana halnya Indonesia. Beberapa pendapat tentang definisi
social studies adalah sebagai berikut.
· Leonard S. Keaworthe mengatakan bahwa social studies are the study
ofpeople carried on in order to help student understand themselves andothers in
a varieties of societies in different places and at different times as
individual and group seek to meet the need through many institutions as those
human beings search for a satisfying a personal philosophy and the good
society.
· U.S.
Bureau of Education dalam The Social Studies in
Secondary Education menyatakan: the social studies are understand to be those
whose subject matter relative directly to the organization and development of
human society and to man as a member of social group.
· Edgar B Wesley mengatakan bahwa the social studies are the social
sciences simplified for paedagogical purposes in school. The social studies
consist of geography, history, economic, sociology, civics and various
combination of these subjects.
· Menurut kurikulum 1975,
ilmu pengetahuan sosial adalah bidang studi yang merupakan panduan (fusi) dari
sejumlah mata pelajaraan sosial. Di sekolah lanjutan, mata pelajaraan sosial
sebagian terpisah ke dalam mata pelajaran yang mandiri seperti geografi dan
kependudukan, sejarah, ekonomi dan koperasi, antropologi, serta tata buku dan
hitung dagang.
Berbeda dengan ilmu sosial, studi sosial bukan merupakan suatu bidang
keilmuan atau disiplin akademis, melainkan lebih merupakan suatu bidang
pengkajian tentang gejala dan masalah sosial. Dalam kerangka kerja pengkajiannya,
studi sosial menggunakan bidang-bidang keilmuan termasuk ilmu sosial. Tentang
studi sosial ini Achmad Sanusi memberikan penjelasan bahwa,
studi sosial tidak selalu bertaraf akademis universitas, bahkan merupakan
bahan-bahan pelajaran bagi siswa sejak pendidikan dasar. Selanjutnya studi
sosial dapat berfungsi sebagai pengantar kepada disiplin ilmu sosial bagi
pendidikan lanjutan atau jenjang berikutnya. Studi sosial bersifat
interdisipliner dengan menetapkan pilihan masalah-masalah tertentu berdasarkan
sesuatu referensi dan meninjaunya dari beberapa sudut sambil mencari logika
dari hubungan-hubungan yang ada satu dengan lainnya.
Kerangka kerja studi sosial dalam mengkaji atau mempelajari gejala dan
masalah sosial di masyarakat tidak menekankan bidang teoretis, melainkan lebih
kepada bidang praktis. Oleh karena itu studi sosial tidak terlalu bersifat
akademis teoretis, melainkan merupakan pengetahuan praktis yang dapat diajarkan
mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Pendekatan studi sosial
bersifat interdisipliner atau multidisipliner dengan menggunakan berbagai
bidang keilmuan. Maksudnya bahwa studi sosial dalam meninjau suatu gejala
sosial atau masalah sosial dilihat dari berbagai dimensi/sudut/segi/aspek
kehidupan. Sedangkan ilmu sosial pendekatannya bersifat disipliner dari bidang
ilmunya masing-masing. Kesimpulannya dapat dikatakan bahwa studi sosial lebih
memperlihatkan suatu bentuk gabungan ilmu sosial.
Tugas studi sosial, sebagai suatu bidang studi mulai dari tingkat SD sampai
ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi, adalah membina warga masyarakat yang
mampu menyerasikan kehidupannya berdasarkan kekuatan-kekuatan fisik dan sosial
dan mampu memecahkan masalah-masalah sosial yang dihadapinya. Oleh karena itu
materi dan metode penyajiannya harus sesuai dengan misi yang diembannya.
Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa social studies atau
ilmu pengetahuan sosial adalah studi tentang ilmu-ilmu sosial yang
disederhanakan untuk tujuan pendidikan di sekolah. Tujuan tersebut adalah
terciptanya atau terbentuknya warga-warga negara yang baik (good society).
2. IPS sebagai Kajian Sosial (Social Studies)
IPS adalah studi atau kajian masalah-masalah sosial yang berasal dari
ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk kepentingan tujuan pendidikan di
sekolah yaitu menciptakan warga negara yang baik (good citizen). IPS bukan
sekadar pengetahuan, tetapi merupakan ilmu pengetahuan yang disusun dan
diorganisasikan secara baik menurut kepentingan pendidikan dan pengajaran. IPS
berada di tengah-tengah antara ilmu-ilmu sosial dan pengetahuan sosial.
D. Persamaan dan Perbedaan IPS sebagai Ilmu Sosial (Social Sciences)
dan Kajian Sosial (Social Studies)
1. Persamaan IPS sebagai Ilmu Sosial dan Kajian Sosial
Menurut Edgar B Wesley, persamaan antara social studies dengan social
sciences terletak pada sasaran yang diselidiki yaitu manusia dalam kehidupan
bermasyarakat. Keduanya membahas masalah yang timbul akibat hubungan
(interrelationship) manusia. Dengan kata lain, keduanya mempelajari masyarakat
manusia.
2. Perbedaan Ilmu Sosial dengan Kajian Sosial
Perbedaan penting antara ilmu-ilmu sosial dengan pengetahuan sosial
terletak pada tujuan masing-masing. Ilmu sosial bertujuan memajukan dan
mengembangkan konsep dan generalisasi melalui penelitian ilmiah, dengan
melakukan hipotesis untuk menghasilkan teori atau teknologi baru.
Sementara itu, tujuan ilmu pengetahuan sosial bersifat pendidikan, bukan
penemuan teori ilmu sosial. Orientasi utama studi ini adalah keberhasilannya
mendidik dan membuat siswa mampu mengerjakan ilmu pengetahuan sosial, berupa
tercapainya tujuan intruksional.
Dari uraian tersebut, ilmu pengetahuan sosial menggunakan bagian-bagian
ilmu sosial guna kepentingan pengajaran. Untuk itu, berbagai konsep dan
generalisasi ilmu sosial harus disederhanakan agar lebih mudah dipahami
murid-murid yang umumnya belum matang untuk mempelajari ilmu-ilmu
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
A. SIMPULAN
1. Ilmu-ilmu sosial adalah ilmu yang
mempelajari segala aspek kehidupan masyarakat, problem-problem dalam
masyarakat, serta bertujuan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat pada
umumnya. Dengan kata lain, ilmu sosial adalah ilmu yang bidang kajiannya berupa
tingkah laku manusia dalam konteks sosialnya.
2. IPS adalah matapelajaran atau bidang
studi yang merupakan paduan dan integrasi ilmu-ilmu sosial yang dikemas dengan
materi yang sederhana, menarik, mudah dimengerti dan dipelajari untuk tujuan
instruksional di sekolah.
3. Sebagai social sciences, materi IPS
bersumber dari paduan dan integrasi ilmu-ilmu sosial yang telah disederhanakan,
disesuaikan dan dipilih sesuai dengan tujuan pembelajaran di sekolah.
4. Sebagai social studies, IPS bukan
sekedar pengetahuan, melainkan ilmu pengetahuan yang disusun dan
diorganisasikan secara baik menurut kepentingan pendidikan dan pengajaran.
Posisi IPS berada di tengahtengah antara ilmu-ilmu sosial dan pengetahuan
sosial.
5. Persamaan social sciences dan social
studies terletak pada sasaran yang diselidiki yaitu manusia dalam kehidupan
bermasyarakat.
6. Perbedaan social sciences dan social
studies terletak pada tujuan masing-masing. Ilmu sosial bertujuan memajukan dan
mengembangkan konsep dan generalisasi, sedangkan social studies bersifat
pendidikan.
B.SARAN
Dengan pengajaran IPS, diharapkan siswa atau peserta
didik dapat memiliki sikap peka dan tanggap untuk bertindak secara rasional dan
bertanggungjawab dalam memecahkan masalah-masalah sosial yang dihadapi dalam
kehidupannya. Selain itu siswa diharapkan mampu meningkatkan kemampuan
bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, baik secara
nasional maupun global.
Tak lupa Penulis memohon maaf apabila ada penulisan
yang kurang benar dan penulis meminta kritik yang sifatnya membangun demi
kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca.
Terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA
[3] Rusdi,
Muhammad,Pengantar Ilmu Pengetahuan Sosial(Surabaya: Tim IPS FKIS IKIP Surabaya. 1983)h.34
Jogyakarta. 1981).h.8
unit 1
[6]
Saidihardjo,Konsep Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial,(FIP IKIP Jogyakarta, 1996)h.4
(Bandung,1979)h.1
[9] Nursid
Sumaatmadja., dkk.. Buku Materi Pokok Konsep Dasar Ilmu Pengetahuan
Sosial, Modul 1-3. (Jakarta : Karunika, Universitas Terbuka, 1986)h.7

