Newest Post

Archive for Mei 2014

rakyat Indonesia adalah masyarakat yang heterogen karena terdiri dari banyak suku, agama dan ras sehingga melahirkan banyak perbedaan dalam berbagai hal, akan tetapi perbedaan tersebut tidak ada artinya saat kita memikirkan hal yang sama yaitu kemajuan bangsa Indonesia.

Kemajuan bangsa Indonesia bergantung dari bagaimana generasi mudanya karena di pundak merekalah tampu kepemimpinan akan pindah.

Bagi masyarakat menengah kebawah partai bisa jadi pilihan yang paling pas untuk memilih para wakilnya untuk menyapaikan aspirasi kepada para petinggi Negara karena mereka tidak bisa menyampaikan aspirasinya secara langsung.

Partai politik sendiri mempunyai peranan penting dalam sejarah berdirinya Negara Indonesia dalam hal ini ada dua fase yang ditempuh partai politik dalam memperjuangkan kemerdekaan yang pertama yaitu dengan cara radikal ada juga yang memperjuangkan kemerdekaan dengan politiknya.

Dari padangan tersebut bahawa partai politik sudah ada sejak lama, dari 3 partai sampai lebih dari 20 partai dalam satu pemilu Indonesia pernah mengalaminya, berbagai pendapat dan pandangan masyarakat pun bermacam-macam dari yang mengatakan lebih baik partainya sedikit ada juga yang mengatakan lebih baik banyak partai, akan tetapi bukan hal itu yang menjadi sorotan saya dalam tulisan ini melainkan mengapa seseorang memilih partai politik tertentu.

Pernah saya berbincang-bincang dengan beberapa orang tentang alasan memilih partai politik tertentu dan jawaban mereka hampir sama yaitu karena keuntungan, baik untung dalam hal materi maupun untung dalam hal jabatan, hal ini menunjukan bahwa tidak adanya kesadaran masyarakat tentang politik bahkan sangat tragis lagi partai politik dijadikan ladang mencari uang dan jabatan, apakah hal ini benar? Saya tidak tahu jawabannya hanya yang saya tahu bahwa partai politik ada dan digunakan untuk menyampaikan aspirasi masyarakat atau dengan kata lain partai politik adalah wadah yang menampung aspirasi rakyat.

Hal seperti ini ditemukan dimasyarakat kalangan bawah padahal golongan inilah yang terbanyak diantara golongan yang lain.

Dalam hal ini saya menyoroti bahwa politik di Indonesia belum mencapai tujuannya 100%, sering saya melihat berita di televise, banyak dari para anggota partai yang terjerat hukum terutama kasus yang berkaitan dengan uang, bagi saya masyarakat dari kalangan bawah hal ini sangat membingungkan, yang seharusnya membela rakyat malah menipu rakyat.

Dari sini saya ingin mengajak masyarakat Indonesia cerdas dalam berpolitik, jangan karena partai politik bangsa Indonesia menjadi terpecah belah dan saling menjatuhkan

Pandangan Politik

Rabu, 28 Mei 2014
Posted by Unknown

Pada paruh 1929, Kyai Ahmad Fadlil (meninggal tahun 1950) ayahanda K.H. Irfan
Hielmy (alm), memulai kisah pendirian Pondok Pesantren dengan sebuah mesjid dan sebuah
bilik sebagai asrama. Santri yang pertama mondok adalah pemuda-pemuda setempat yang tidak
saja diajarai ilmu-ilmu agama tetapi diajak mengolah sawah, bercocok tanam, dan diberi contoh
bagaimana memelihara bilik dan memakmurkan mesjid. Pesantren Cidewa, sebutan untuk
komunitas baru itu, dengan cepat mendapat simpati serta dukungan dari masyarakat sekitar
bahkan di tahun-tahun pertama mulai dikenal luas dan Iebih banyak lagi santri yang mondok.
Tanah Pondok Pesantren Darussalam Ciamis ini adalah hasil wakaf dari suami-istri Mas
Astapraja dan Siti Hasanah di Kampung Kandanggajah, Desa Dewasari, Kecamatan Cijeungjing,
Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Pada tahun 1967 mulai dirintis penyelenggaraan sistem pendidikan formal dengan
mengadaptasi model klasikal, dan sampai saat ini semua jenjang pendidikan dari mulai Taman
Kanak-kanak (TK) atau Raudlatul Athfal (RA) telah berdiri hingga Perguruan Tinggi.
Lembaga pendidikan formal pertama yang didirikan oleh Pesantren Darussalam Ciamis
adalah Raudhlatul Athfal (RA) pada tahun 1967, kemudian pada tahun 1968 berdiri Madrasah
Ibtidaiyah (MI) setingkat SD, dan Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) berdiri pada tahun
1969.

Kemudian pada tahun 1969 berdiri Madrasah Aliyah Agama Islam Negeri (MAAIN) yang
semula merupakan Madrasah Aliyah Swasta Darussalam Kabupaten Ciamis berdasarkan
Keputusan Menteri Agama RI No. 62 Tahun 1969 pada tangal 2 Djuli tahun 1969. Dan dalam
konsideran SK Menteri Agama tersebut dinyatakan bahwa selama Anggaran Belanja
Departemen Agama untuk keperluan tersebut tidak mencukupinya, maka biaya pembinaan
selanjutnya dibebankan kepada Pengasuh Pesantren Darussalam Ciamis. (SK terlampir)
Dalam perjalanannya yang telah mencapai usia 41 tahun ini, MAN Darussalam Ciamis
berkomitmen pada aturan yang berlaku yang kemudian dikembangkan dengan arah kebijakan
madrasah serta pendayagunaan potensi tenaga edukatif, tenaga administratif serta fasilitas sarana
yang ada di MAN Darussalam Ciamis. Kondisi demikian tentu akan menunjukan jati dirinya
dalam menghasilkan lulusan yang berkualitas. Hal ini dapat dibuktikan dengan berbagai
keberhasilan yang dicapai peserta didik.

Demikian pula sebagai arah timbal balik hubungan madrasah dengan masyarakat, MAN
Darussalam Ciamis telah menunjukkan perhatian serta kepercayaan masyarakat yang semakin
positif. Hal ini pun dapat dibuktikan dengan peminat siswa dari tahun ke tahun yang terus
meningkat sehingga dalam penerimaan siswa baru diadakan seleksi melalui batasan nilai (hasil
Ujian Nasional dan tes khusus).

Kendatipun demikian, sebagai suatu proses usaha pendidikan yang menghadapi berbagai
heteroginitas dalam komponen-komponennya, maka tidak menutup mata terhadap berbagai
kekurangan yang perlu disempurnakan. Oleh karena itu dalam mengoperasionalkan usaha
pendidikan pada MAN Darussalam Ciamis, secara berkesinambungan pimpinan madrasah serta
seluruh mitra kerjanya senantiasa berfikir inovatif dan prosfektif menuju pendidikan yang
bermutu.

Dalam perjalannya sampai sekarang, Alhamdulillah MAN Darussalam Ciamis telah
mampu melengkapi dirinya dengan sarana dan prasarana yang tidak kalah dari sekolah lainnya,
demi mendukung pengembangan keilmuan yang diharapkan seluruh pihak, misalnya
laboratorium Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang mencakup Laboratorium Fisika, Kimia, dan
Bilogi. Selain itu dilengkapi pula dengan Laboratorium Bahasa dan Laboratorium Komputer.

Demikian pula dengan unsur pendidiknya, MAN Darussalam Ciamis terus berusaha
menjalin kerjasama baik dengan sesama pendidik dalam negeri maupun dengan para pendidik
dari mancanegara, khususnya dari Asia dan Amerika, juga para siswanya pernah diikutsertakan
dalam program pertemuan pelajar ke Jepang, dan guru ke Amerika Serikat (AS).

Disamping itu, MAN Darussalam Ciamis tetap berpegang teguh pada prinsip utama yaitu
mencetak manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) tanpa melupakan
keimanan dan ketaqwaan (Imtak). Kegiatan keagamaan sesuai ciri Madrasah terus
dikembangkan sehingga cita-cita tersebut bisa tercapai.

Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan di MAN Darussalam Ciamis dapat tercapai
apabila proses pembelajaran mampu membentuk pola prilaku peserta didik sesuai dengan tujuan
pendidikan, serta dapat dievaluasi melalui pengukuran dengan menggunakan tes dan non tes.
Proses pembelajaran akan efektif apabila dilakukan melalui persiapan yang matang dan
terencana dengan baik supaya dapat memenuhi.

Adapun para Kepala yang pernah memimpin/bertugas di MAN Darussalam Ciamis
adalah sebagai berikut:
1) KH. Ibrahim Ahmad (1969 – 1994)
2) Drs. H. Wahyudin, M. Pd. (1994 – 2004)
3) Dra. Hj. Eulis Fadilah Jauhar Nafisah, M. Pd. I (2004 – 2010)
4) Drs. Tatang Ibrahim, M. Pd (2010 – sekarang)
FASILITAS

A. Laboratorium MIPA
Laboratorium IPA digunakan untuk praktek pembelajaran pada mata pelajaran
biologi, fisika dan kimia. Dengan keberadaan laboratorium ini, siswa dapat melakukan
berbagai praktek belajar seperti: observasi, eksperimen, penelitian sederhana dan uji kasus.
Luas laboratorium IPA adalah 74,8 M2, dengan rasio ruangan adalah 2,4 M/siswa.
Dengan rasio tersebut, sangat kondusif bagi guru dan siswa yang melakukan praktek belajar.
Media belajar berupa alat-alat peraga dan bahan-bahan praktek tersedia secara lengkap.

B. Laboratorium Komputer
Laboratorium komputer digunakan untuk praktek pembelajaran pada mata pelajaran
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Laboratorium komputer didukung dengan 1 unit
komputer server (untuk guru/instruktur) dan 12 unit komputer klien (untuk siswa). Semua
unit komputer saling berhubungan dalam sistem jaringan Local Area Network (LAN) yang
connected dengan jaringan internet Telkomnet Speedy dan Jardiknas (HotSpot Area).
Komputer server yang digunakan oleh guru/instruktur didukung dengan fasilitas
Viewer (LCD Projector) dan software NetSupport, sehingga praktek pembelajaran antara
guru dan siswa dapat dilakukan secara interaktif.
Unit-unit komputer tersebut digunakan siswa untuk melakukan berbagai praktek ICT,
seperti: eksperimen hardware, manajemen file, pembuatan berbagai jenis dokumen, disain
grafis, browsing di internet, e-mail, chatting, download-upload, dll.
Luas laboratorium komputer adalah 48 m2, dengan rasio ruangan adalah 2 m/siswa.
Dengan rasio tersebut, sangat kondusif bagi guru dan siswa yang melakukan praktek belajar.

C. Laboratorium Bahasa
MAN Darussalam bekerjasama dengan Institut Agama Islam Darusssalam (IAID)
dalam menggunakan fasilitas laboratorium bahasa. Laboratorium ini digunakan untuk
pembelajaran bahasa asing, yaitu Bahasa Arab dan Inggris.
Keberadaan laboratorium ini membantu pembelajaran siswa dalam meningkatkan
kualitas berbahasa asing. Didukung fasilitas audio-visual, guru/instruktur dapat membimbing
dan mengarahkan siswa dalam melakukan praktek bahasa asing, seperti reading, listening,
pronunciation, grammar, dll.
Selain kerjasama dalam penggunaan laboratorium, IAID dan Pesantren Darussalam
juga memfasilitasi pengadaan instruktur dari luar negri (native speaker), antara lain: Mesir
dan Amerika. Keberadaan native speaker ini menjadi jaminan mutu dalam meningkatkan
kualitas berbahasa asing.

D. Mesjid
Mesjid merupakan wahana untuk pembelajaran agama Islam, terutama dalam ibadah
dan quality control akhlaq. Proses pembelajaran di mesjid dilakukan secara intensif oleh guru
dan siswa, terutama dalam pembelajaran praktek ibadah.
Masjid di kampus MAN Darussalam digunakan secara rutin untuk kegiatan-kegiatan:
lima sholat fardhu berjamaah, khitobah, muhadhoroh, munaqasyah (diskusi islami),
pembinaan mubalig/mubalighah, dan pengajian Kitab Islam Klasik (kitab kuning).

E. Koperasi Guru dan Siswa
Keberadaan koperasi sangat membantu dalam peningkatan kesejahteraan guru dan
pembinaan kewirausahaan siswa. Koperasi MAN Darussalam menyediakan fasilitas simpanpinjam
bagi anggotanya dan fasilitas penjualan dan jasa seperti pengadaan buku-buku paket
pelajaran, LKS, kebutuhan-kebutuhan guru dan siswa.
Selain itu, siswa diberi kesempatan belajar untuk aktif dalam koperasi, sehingga
siswa dapat pengalaman langsung dalam praktek enterpreneurship (kewirausahaan).

F. Aula
Aula MAN Darussalam merupakan wahana yang digunakan untuk kegiatan-kegiatan
massal, seperti rapat, musyawarah, diskusi, seminar, workshop, saresehan, pelatihan maupun
pengajian/tabligh dll.

Keberadaan Aula yang strategis dan lapangan parkir yang kondusif, menjadikan Aula
sebagai sarana yang kondusif dalam kegiatan-kegiatan MAN Darussalam.

G. Perpustakaan
Perpustakaan menjadi pusat literatur pembelajaran di MAN Darussalam. Untuk
mendukung proses belajar mengajar, perpustakaan menyediakan koleksi buku sbb:
1. Buku siswa/pelajaran (semua mata pelajaran) : 4.195 eksp
2. Buku panduan pendidik : 2.500 eksp
3. Buku pengayaan : 1.500 eksp
4. Buku referensi (misalnya kamus, ensiklopedia, dsb). : 923 eksp
5. Lainnya : 507 eksp

Didukung dengan manajemen kepustakaan yang dikelola oleh tenaga terlatih, serta
software kepustakaan yang baik, pengelolaan perpustakaan MAN Darussalam berjalan
dengan baik, sehingga guru dan siswa merasa nyaman melakukan kegiatan-kegiatan
kepustakaan

H. Ruang-ruang:
1. Kepala Madrasah : 1 ruang
2. Ruang Wakil Kepala Madrasah : 1 ruang
3. Ruang Guru : 1 ruang
4. Ruang TU : 1 ruang
5. Ruang BP/BK : 1 ruang
6. Ruang UKS : 1 ruang
7. Ruang OSIS : 1 ruang
8. Ruang Paskibra/BSMR : 1 ruang
9. Ruang Kelas : 15 ruang
10. Ruang Studio Radio : 1 ruang
11. Ruang/Gudang Arsip : 1 ruang
12. Asrama Siswa : 3 gedung
13. WC : 10 ruang

I. Kantin
J. Lapangan Upacara
K. Lapangan Olahraga, yang mencakup:
1. Lapangan basketball
2. Lapangan volleyball
3. Lapangan tenis
4. Lapangan badminton
5. Lapangan sepakbola
L. Ruang Kesenian, yang mencakup:
1. Seni sunda (calung, kecapi, angklung, kendang)
2. Seni marawis
3. Seni paduan suara
4. Seni musik
5. Seni lukis/kaligrafi
6. Seni teater
Visi dan misi

A. Visi
Perkembangan dan tantangan masa depan dalam : perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, globalisasi yang sangat cepat, era informasi-informasi, dan berubahnya kesadaran
Masyarakat dan orang tua, terhadap pendidikan memacu Madrasah untuk merespon tatangan
sekaligus peluang MAN Darussalam Ciamis agar memiliki citra moral yang menggambarkan
profil Madrasah yang di inginkan di masa datang yang di wujudkan dalam visi Madrasah berikut
:
Menjadi Madrasah Aliyah Negeri bertaraf internasional,
unggul dalam pendidikan kepemimpinan dan pengajaran berbasis pesantren,
serta penanaman semangat siswa dalam meraih prestasi.

B. Misi
Visi MAN Darussalam tersebut mencerminkan cita-cita Madrasah yang berorientasi ke
depan dengan memperhatikan potensi masa sekarang, sesuai dengan norma dan harapan
masyarakat.

Untuk mewujudkannya, Madrasah menentukan langkah-langkah strategis yang
dinyatakan dalam Misi berikut :

1. Mengupayakan terwujudnya sistem penjaminan mutu madrasah bertaraf internasional yang
ditujukan untuk kepentingan bangsa dan negara.

2. Mendidik dan membina siswa dalam proses pendidikan integral sebagai bagian dari
pendidikan kepemimpinan yang kuat dan berkarakter.

3. Memadukan sistem pembelajaran madrasah dan sistem pendidikan pesantren yang bertumpu
pada sikap akhlak mulia dan budaya menuntut ilmu yang terus-menerus.

4. Mendorong dan membimbing siswa dalam menciptakan budaya prestasi, baik dalam proses
pembelajaran maupun dalam kehidupan sosial.

C. Tujuan
Adapun tujuan MAN Darussalam Ciamis adalah sebagai berikut :

1. Menyelenggarakan pendidikan bertaraf internasional yang berorientasi pada sistem
penjaminan mutu.

2. Mendidik dan membina siswa yang unggul dalam kepemimpinan yang berkarakter sebagai
bekal pendidikan selanjutnya.

3. Mendidik dan membina siswa dalam suasana pendidikan pesantren sehingga terbentuk
kepribadian yang kuat, baik akhlaknya maupun semangat menuntut ilmunya.

4. Mengondisikan siswa dalam budaya prestasi sehingga ketika sudah lulus dapat menjadi
manusia yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Tujuan yang telah ditetapkan tersebut mengarah kepada perumusan sasaran, kebijakan,
program dan kegiatan dalam rangka merealisasikan misi.



PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
IPS merupakan suatu program pendidikan dan bukan sub-disiplin ilmu tersendiri,sehinnga tidak akan ditemukan baik dalam nomenklatur filsafat ilmu,displin ilmu-ilmu sosial (social science) maupun Pendidikan sosial(Social Studies).Social Science Education Council (SSEC) dan National Council Social Studies (NCSS), menyebut IPS sebagai social science dan Social studies. Dengan kata lain, IPS mengikuti cara pandang yang bersifat terpadu dari sejumlah mata pelajaran seperti : geografi, ekonomi, ilmu politik,ilmuhukum, sejarah, antropologi, psikologi, sosiologi dan sebagainya.
         Dengan istilah bahwa IPS bisa dapat diartikan sebagai Social Science dan Social Studies. Maka dari itu kami akan mengupas pernyataan berikut serta memberikan perbedaannya.

2. Kompetensi Dasar
Mahasiswa-mahasiswi mampu memahami IPS sebagai ilmu sosial dan kajian sosial.

           3.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat diambil rumusan makalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana konsep dasar IPS?
2.      Bagaiman pengertian IPS sebagai Social Studies dan Social Science?
3.      Apa perbedaan antara social studies dan social science?
4.      Bagaimana Ruang Lingkup dan Tujuan pendidikan IPS sebagai program pendidikan?

4.Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Tujuan Formal
a.       Memenuhi tugas yang diberikan oleh Bapak Abdul Aziz, S.Th.I, M.Pd.I
dalam mata kuliah  IPS.
b.      Menjelaskan ruang lingkup dan tujuan pendidikan IPS.
c.       Menjelaskan IPS sebagai sebagai Social Science dan Social Studies.
d.      Mengetahui perbedaan antara social science dan social studies.


BAB II
PEMBAHASAN

A. IPS sebagai Ilmu Sosial (Social Science) dan Sebagai Kajian Sosial (Social Studies)
            Sebelum kita mempelajari IPS sebagai ilmu sosial (social science) dan Sebagai Kajian Sosial (Social Studies), kami para penulis jelaskan terlebih dahulu pengertian tentang IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial)
1.        Pengertian IPS ( Ilmu Pengetahuan Sosial )
            Istilah ilmu pengetahuan sosial sebagaimana dirancang dalam draf kurikulum 2004 memang membingungkan untuk dicarikan definisinya, karena dalam berbagai literatur, baik yang ditulis oleh ahli dari luar maupun dalam negeri, kita hanya mempunyai istilah ilmu pengetahuan sosial yang merupakan terjemahan dari social studies. Sedangkan nama IPS dalam dunia pendidikan dasar di negara kita muncul bersamaan dengan diberlakukannya kurikulum SD, SMP dan SMU tahun 1975
Dilihat dari sisi keberlakuannya, IPS disebut sebagai bidang studi “baru”, karena cara pandangnya bersifat terpadu. Hal tersebut mengandung arti bahwa IPS bagi pendidikan dasar dan menengah merupakan hasil perpaduan dari mata pelajaran geografi, ekonomi, ilmu politik, ilmu hukum, sejarah, antropologi, psikologi, dan sosiologi. Perpaduan ini disebabkan mata pelajaran tersebut memiliki objek material kajian yang sama yaitu manusia.
            Bagi sekelompok kecil ahli pendidikan di Indonesia, sebenarnya telah memakai istilah IPS dalam pertemuan-pertemuan ilmiah, jauh sebelum diberlakukannya kurikulum 1975. Nama-nama yang dipergunakan dalam kesempatan ini bermacam-macam, antara lain ada yang memakai istilah Studi Sosial yang dekat dengan istilah aslinya, ada pula yang menyebutnya dengan Ilmu-Ilmu Sosial dan ada pula yang menamakannya Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Namun sejak tahun 1976 nama IPS telah menjadi nama baku. Harus diakui bahwa ide IPS berasal dari literatur pendidikan Amerika Serikat. Nama asli IPS di Amerika Serikat adalah Social Studies”. Istilah tersebut pertama kali dipergunakan sebagai nama sebuah Komite yaitu “Committee of Social Studies” yang didirikan pada tahun 1913. Tujuan dari lembaga itu adalah sebagai wadah himpunan tenaga ahli yang berminat pada kurikulum Ilmu-ilmu Sosial di tingkat Sekolah Dasar dan Menengah, dan ahliahli Ilmu-ilmu Sosial yang mempunyai minat sama. Nama Komite itulah yang kemudian dipergunakan sebagai nama kurikulum yang mereka hasilkan. Meskipun demikian nama “Social Studies” menjadi makin terkenal pada tahun 1960-an, ketika pemerintah mulai memberikan dana untuk mengembangkan kurikulum tersebut.
            Pada waktu Indonesia memperkenalkan konsep IPS, pengertian dan tujuannya tidaklah persis sama dengan Social Studies yang ada di Amerika Serikat. Mengapa demikian? Karena kondisi masyarakat Indonesia memang berbeda dengan kondisi masyarakat Amerika Serikat. Ini mengisyaratkan adanya penyesuaian-penyesuaian tertentu. Sebenarnya keadaan ini sangat baik, karena setiap ide yang datang dari luar kita terima kalau memang sesuai dengan kondisi masyarakat kita.
            Mulyono Tj. memberi batasan IPS bahwa IPS sebagai pendekatan  interdisipliner (Inter-disciplinary approach)(antar cabang ilmu pengetahuan) dari pelajaran Ilmu-ilmu sosial. IPS merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial, seperti sosiologi, antropologi budaya, psikologi sosial, sejarah, geografi, ekonomi, ilmu politik, dan sebagainya. 
IPS merupakan hasil kombinasi atau hasil pemfusian atau perpaduan dari sejumlah mata pelajaran seperti geografi, ekonomi, sejarah, antropologi, dan politik. Mata pelajaran tersebut mempunyai ciri-ciri yang sama, oleh karena itu dipadukan menjadi satu bidang studi yaitu Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).
Dengan demikian jelas bahwa IPS adalah fusi dari disiplin ilmu-ilmu sosial. Pengertian fusi di sini berarti bahwa IPS merupakan suatu bidang studi utuh yang tidak terpisah-pisah dalam kotak-kotak disiplin ilmu yang ada. Artinya, bahwa bidang studi IPS tidak lagi mengenal adanya pelajaran geografi, ekonomi, sejarah secara terpisah, melainkan semua disiplin tersebut diajarkan secara terpadu. Dalam kepustakaan kurikulum pendekatan terpadu tersebut dinamakan pendekatan “broadfield”. Dengan pendekatan tersebut batas disiplin ilmu menjadi lebur, artinya terjadi sintesis antara beberapa disiplin ilmu.
            Dengan demikian sebenarnya IPS berinduk kepada ilmu-ilmu sosial, dengan pengertian bahwa teori, konsep, prinsip yang diterapkan pada IPS adalah teori, konsep dan prinsip yang ada dan berlaku pada ilmu-ilmu sosial. Ilmu sosial dengan bidang keilmuannya dipergunakan untuk melakukan pendekatan, analisis, dan menyusun alternatif pemecahan masalah sosial yang dilaksanakan pada pengajaran IPS.

2.        Ruang Lingkup Pendidikan IPS
Secara mendasar, pembelajaran IPS berkenaan dengan kehidupan manusia yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhannya. IPS berkenaan dengan cara manusia memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan untuk memenuhi materi, budaya dan kejiwaannya. Selain itu memanfaatkan sumber daya yang ada dipermukaan bumi, mengatur kesejahteraan dan pemerintahannya maupun kebutuhan lainnya dalam rangka mempertahankan kehidupan masyarakat manusia.
IPS mempelajari, menelaah, dan mengkaji sistem kehidupan manusia di permukaan bumi ini dalam konteks sosialnya atau manusia sebagai anggota masyarakat. Dengan pertimbnagan bahwa manusia dalam konteks sosial demikian luas, pengajaran IPS pada jenjang pendidikan harus dibatasi sesuai dengan kemampuan peserta didik tiap jenjang, sehinnga ruang lingkup pengajara IPS pada jenjang pendidikan dasar berbeda dengan jenjang pendidikan menengah dan pebdidikan tiggi.
Pada jenjang pendidikan dasar, ruang lingkup pengajaran IPS dibatasi sampai pada gejala dan masalh sosial yang dapat dijangkau pada geografi dan sejarah. Terutama gejala dan masalah sosial kehidupan sehari-hari yang adadilingkingan sekitar peserta didik SD/MI. Pada jenjang pendidikan menengah, ruang lingkup kajian diperluas. Begitu juga pada jenjang pendidikan tinggi meliputi bobot dan keluasan materi dan kajian semakin dipertajam dengan berbagai pendekatan. Pendekatan interdisipliner atau multidispliner dan pendekatan sistem menjadi pilihan yang tepat untuk diterapkan karena IPS pada jenjang pendidikan tinggi menjadi sarana melaatih daya pikir dan daya nalar mahasiswa secara berkesinambungan.
Sebagaiman telah dikemukakan diatas, bahwa yang dipelajari IPS adalh manusia sebagai anggota masyarakat dalam konteks sosialnya, ruanag lingkup kajian IPS meliputi:
         Subtansi materi ilmu-ilmu sosial yang bersentuhan dengan masyarakat.
         Gejala, masalah, dan peristiwa sosial tentang kehidupan masyarakat.

3.    Tujuan Pendidikan IPS
Tujuan IPS adalh sebagai berikut:
  Mengajarkan konsep-konsep dasar sosiologi, geografi, ekonomi, sejarah, kwarganegaraan, pedagogis, dan psikologis.
  Mengembangkan keemampuan berpikir kritis dan kreatif, inkuiri, memecahkan masalah, dan ketrampilan sosial.
  Membangun komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
  Meninggkatkan kemampuan bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, baik secara nasional maupun global.
Sejalan dengan tujuan tersebut tujuan IPS menurut Nursid Sumaatmaja adalah “ Membina anak didik menjadi warga negara yang baik,yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian sosial yang berguna bagi dirinya serta bagi masyarakat dan negara”. Sedangkan secara rinci Oemar Hamalik merumuskan tujuan pendidikan IPS berorientasi pada tingkah laku para siswa, yaitu:
1.      Pengetahuan dan pemahaman.
2.      Sikap hidup belajar.
3.      Nilai-nilai sosial dan sikap.
4.      Dan keterampilan.
Tujuan utama pengetahuan sosial ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap maszlah sosial yang terjadi di masyarakat,memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi,dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat. Tujuan tersebut dapat dicapai manakala program-program pelajaran IPS di sekolah di organisasikan secara baik.

B. Pengertian IPS sebagai Ilmu Sosial (Social Science)

1.    Pengertian Ilmu Sosial (Social Science)
            Dari sisi bahasa, ilmu sosial berasal dari bahasa Inggris social science. Kata social berarti sosial sedang kata science bermakana ilmu. Dengan demikian, secara literal social science mempunyai makna ilmu sosial. Dari sisi istilah, sampai saat ini belum terdapat kesatuan pendapat dan rumusan yang jelas di antara para ahli berkenaan dengan batasan atau pengertian social science (ilmu-ilmu sosial).
            Achmad Sanusi memberikan batasan tentang ilmu Sosial sebagai berikut “Ilmu sosial terdiri dari disiplin-disiplin ilmu pengetahuan sosial yang bertaraf akademis dan biasanya dipelajari pada tingkat perguruan tinggi yang makin lanjut dan makin ilmiah”. Sedangkan menurut.
 Gross ilmu sosial merupakan disiplin intelektual yang mempelajari manusia sebagai makhluk sosial secara ilmiah serta memusatkan pada manusia sebagai anggota masyarakat dan pada kelompok atau masyarakat yang ia bentuk.
Selanjutnya Nursid Sumaatnadja ,menyatakan bahwa ilmu sosial adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia baik secara perorangan maupun tingkah laku kelompok. Oleh karena itu ilmu sosial adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan mempelajari manusia sebagai anggota masyarakat.
Ada bermacam-macam aspek tingkah laku manusia dalam masyarakat, seperti aspek ekonomi, sikap, mental, budaya, dan hubungan sosial. Studi khusus tentang aspek-aspek tingkah laku manusia inilah yang menghasilkan ilmu sosial, seperti ekonomi, ilmu hukum, ilmu politik, psikologi, sosiologi, dan antropologi. Jadi setiap bidang keilmuan itu mempelajari salah satu aspek tingkah laku manusia sebagai anggota masyarakat. Ekonomi mempelajari aspek kebutuhan materi, antropologi mempelajari aspek budaya, sosiologi mempelajari aspek hubungan sosial, psikologi mempelajari aspek kejiwaan, demikian pula bidang keilmuan yang lain. Sedangkan yang menjadi obyek materialnya adalah sama, yaitu manusia sebagai anggota masyarakat.
Sebagai panduan memahami masalah tersebut, di sini dikemukakan beberapa batasan atau pengertian social science.
•         The social science is the study of the group life of man. The social scientist is interested in all the form which human relationships take in organized groups.
•         The social sciences are these subjects that relate to the origin, organization and development of human society, especially, to man and his association with other man.
v  Social sciences:
1.    the branch of knowledge that deal with human society or its characteristic elements, as family, state, or race, and with the relation and well being as a member of an organized community.
2.   one of a group of sciences dealing with special phases of human society, such as economics, sociology, and politics.
3.   a term some times applied to the scholarly matrials concern with the detailed, systematic, and logical study human being, and their interrelation.
Dari batasan-batasan tersebut dapat disimpulkan bahwa ilmu-ilmu sosial adalah ilmu yang mempelajari segala aspek kehidupan masyarakat, problem-problem dalam masyarakat, serta bertujuan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat pada umumnya. Senada dengam kesimpulan tersebut, Mukmina (2008 : 7) mendefinisikan ilmu sosial sebagai ilmu yang bidang kajiannya berupa tingkah laku manusia dalam konteks sosialnya. Termasuk dalam ilmu sosial adalah geografi, ekonomi, sejarah, sosiologi, antropologi, psikolog, dan ilmu politik, yang pada umumnya merupakan hasil kebudayaan manusia.

2.    Pengertian IPS sebagai Ilmu Sosial (Social Sciences)
            Terdapat banyak pengertian IPS yang diberikan oleh para ahli. Diantara pendapat tersebut diuraikan berikut.
·         Menurut Nasution (1975), IPS adalah bidang studi yang merupakan fusi atau paduan sejumlah mata pelajaran sosial. Dapat juga dikatakan bahwa IPS merupakan mata pelajaran yang menggunakan bagian-bagian tertentu dari ilmu sosial.
·         Kurikulum 1975 mendefinisikan IPS sebagai bidang studi merupakan panduan atau fusi dari sejumlah mata pelajaran sosial.
·         IPS adalah bidang studi yang menghormati, mempelajari, mengolah dan membahas hal hal yang berhubungan dengan masalah-masalah human relationship hingga benar-benar dapat dipahami dan diperoleh pemecahannya. Penyajiannya harus merupakan bentuk terpadu dari berbagai ilmu sosial yang telah terpilih, dan disederhanakan sesuai dengan kepentingan sekolah-sekolah. (Pedoman IPS-IKIP Surabaya)
·         Tjokrodikarjo (1982) mendefinisikan IPS sebagai perwujudan dari suatu pendekatan interdisiplin dari ilmu-ilmu sosial. Ia merupakan integrasi berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi budaya, psikologi, sejarah, geografi, ekonomi, ilmu politik dan ekologi manusia. IPS dipolakan untuk tujuan-tujuan instruksional dengan materi sederhana, menarik, mudah dimengerti dan dipelajari.

Dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan, bahwa IPS adalah pelajaran atau bidang studi yang merupakan fusi (paduan) dan integrasi ilmu. Ilmu sosial yang dikemas dengan materi yang sederhana, menarik, mudah dimengerti dan dipelajari untuk tujuan instruksional di sekolah.
Latar belakang dimasukkannya IPS pada kurikulum sekolah di Indonesia (SD/ MI, SMP, dan SMU) berbeda dari hal serupa di Inggris dan Amerika. Perkembangan sekolah di Indonesia terjadi akibat penyelenggaraan sekolah formal selama masa penjajahan. Oleh karenanya, materi pelajaran di sekolah kebanyakan merupakan kelanjutan dari kurikulum pendidikan warisan Belanda dan Jepang.


C. IPS sebagai Kajian Sosial (Social Studies)
1.Pengertian Kajian Sosial (Social Studies)
Kajian sosial (social studies) pada dasarnya sama dengan ilmu pengetahuan sosial. Dalam sejarahnya, social studies berasal dari Amerika, yang berpenduduk multiras dan budaya, sebagaimana halnya Indonesia. Beberapa pendapat tentang definisi social studies adalah sebagai berikut.
·        Leonard S. Keaworthe mengatakan bahwa social studies are the study ofpeople carried on in order to help student understand themselves andothers in a varieties of societies in different places and at different times as individual and group seek to meet the need through many institutions as those human beings search for a satisfying a personal philosophy and the good society.
·        U.S. Bureau of Education dalam The Social Studies in Secondary Education menyatakan: the social studies are understand to be those whose subject matter relative directly to the organization and development of human society and to man as a member of social group.
·        Edgar B Wesley mengatakan bahwa the social studies are the social sciences simplified for paedagogical purposes in school. The social studies consist of geography, history, economic, sociology, civics and various combination of these subjects.
·        Menurut kurikulum 1975, ilmu pengetahuan sosial adalah bidang studi yang merupakan panduan (fusi) dari sejumlah mata pelajaraan sosial. Di sekolah lanjutan, mata pelajaraan sosial sebagian terpisah ke dalam mata pelajaran yang mandiri seperti geografi dan kependudukan, sejarah, ekonomi dan koperasi, antropologi, serta tata buku dan hitung dagang.
Berbeda dengan ilmu sosial, studi sosial bukan merupakan suatu bidang keilmuan atau disiplin akademis, melainkan lebih merupakan suatu bidang pengkajian tentang gejala dan masalah sosial. Dalam kerangka kerja pengkajiannya, studi sosial menggunakan bidang-bidang keilmuan termasuk ilmu sosial. Tentang studi sosial ini Achmad Sanusi memberikan penjelasan bahwa, studi sosial tidak selalu bertaraf akademis universitas, bahkan merupakan bahan-bahan pelajaran bagi siswa sejak pendidikan dasar. Selanjutnya studi sosial dapat berfungsi sebagai pengantar kepada disiplin ilmu sosial bagi pendidikan lanjutan atau jenjang berikutnya. Studi sosial bersifat interdisipliner dengan menetapkan pilihan masalah-masalah tertentu berdasarkan sesuatu referensi dan meninjaunya dari beberapa sudut sambil mencari logika dari hubungan-hubungan yang ada satu dengan lainnya.
Kerangka kerja studi sosial dalam mengkaji atau mempelajari gejala dan masalah sosial di masyarakat tidak menekankan bidang teoretis, melainkan lebih kepada bidang praktis. Oleh karena itu studi sosial tidak terlalu bersifat akademis teoretis, melainkan merupakan pengetahuan praktis yang dapat diajarkan mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Pendekatan studi sosial bersifat interdisipliner atau multidisipliner dengan menggunakan berbagai bidang keilmuan. Maksudnya bahwa studi sosial dalam meninjau suatu gejala sosial atau masalah sosial dilihat dari berbagai dimensi/sudut/segi/aspek kehidupan. Sedangkan ilmu sosial pendekatannya bersifat disipliner dari bidang ilmunya masing-masing. Kesimpulannya dapat dikatakan bahwa studi sosial lebih memperlihatkan suatu bentuk gabungan ilmu sosial.
Tugas studi sosial, sebagai suatu bidang studi mulai dari tingkat SD sampai ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi, adalah membina warga masyarakat yang mampu menyerasikan kehidupannya berdasarkan kekuatan-kekuatan fisik dan sosial dan mampu memecahkan masalah-masalah sosial yang dihadapinya. Oleh karena itu materi dan metode penyajiannya harus sesuai dengan misi yang diembannya.
Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa social studies atau ilmu pengetahuan sosial adalah studi tentang ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk tujuan pendidikan di sekolah. Tujuan tersebut adalah terciptanya atau terbentuknya warga-warga negara yang baik (good society).
2. IPS sebagai Kajian Sosial (Social Studies)
IPS adalah studi atau kajian masalah-masalah sosial yang berasal dari ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk kepentingan tujuan pendidikan di sekolah yaitu menciptakan warga negara yang baik (good citizen). IPS bukan sekadar pengetahuan, tetapi merupakan ilmu pengetahuan yang disusun dan diorganisasikan secara baik menurut kepentingan pendidikan dan pengajaran. IPS berada di tengah-tengah antara ilmu-ilmu sosial dan pengetahuan sosial.

D. Persamaan dan Perbedaan IPS sebagai Ilmu Sosial (Social Sciences) dan Kajian Sosial (Social Studies)
1. Persamaan IPS sebagai Ilmu Sosial dan Kajian Sosial
Menurut Edgar B Wesley, persamaan antara social studies dengan social sciences terletak pada sasaran yang diselidiki yaitu manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Keduanya membahas masalah yang timbul akibat hubungan (interrelationship) manusia. Dengan kata lain, keduanya mempelajari masyarakat manusia.
2. Perbedaan Ilmu Sosial dengan Kajian Sosial
Perbedaan penting antara ilmu-ilmu sosial dengan pengetahuan sosial terletak pada tujuan masing-masing. Ilmu sosial bertujuan memajukan dan mengembangkan konsep dan generalisasi melalui penelitian ilmiah, dengan melakukan hipotesis untuk menghasilkan teori atau teknologi baru.
Sementara itu, tujuan ilmu pengetahuan sosial bersifat pendidikan, bukan penemuan teori ilmu sosial. Orientasi utama studi ini adalah keberhasilannya mendidik dan membuat siswa mampu mengerjakan ilmu pengetahuan sosial, berupa tercapainya tujuan intruksional.
Dari uraian tersebut, ilmu pengetahuan sosial menggunakan bagian-bagian ilmu sosial guna kepentingan pengajaran. Untuk itu, berbagai konsep dan generalisasi ilmu sosial harus disederhanakan agar lebih mudah dipahami murid-murid yang umumnya belum matang untuk mempelajari ilmu-ilmu






























BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
A. SIMPULAN
1.      Ilmu-ilmu sosial adalah ilmu yang mempelajari segala aspek kehidupan masyarakat, problem-problem dalam masyarakat, serta bertujuan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat pada umumnya. Dengan kata lain, ilmu sosial adalah ilmu yang bidang kajiannya berupa tingkah laku manusia dalam konteks sosialnya.
2.      IPS adalah matapelajaran atau bidang studi yang merupakan paduan dan integrasi ilmu-ilmu sosial yang dikemas dengan materi yang sederhana, menarik, mudah dimengerti dan dipelajari untuk tujuan instruksional di sekolah.
3.      Sebagai social sciences, materi IPS bersumber dari paduan dan integrasi ilmu-ilmu sosial yang telah disederhanakan, disesuaikan dan dipilih sesuai dengan tujuan pembelajaran di sekolah.
4.      Sebagai social studies, IPS bukan sekedar pengetahuan, melainkan ilmu pengetahuan yang disusun dan diorganisasikan secara baik menurut kepentingan pendidikan dan pengajaran. Posisi IPS berada di tengahtengah antara ilmu-ilmu sosial dan pengetahuan sosial.
5.      Persamaan social sciences dan social studies terletak pada sasaran yang diselidiki yaitu manusia dalam kehidupan bermasyarakat.
6.      Perbedaan social sciences dan social studies terletak pada tujuan masing-masing. Ilmu sosial bertujuan memajukan dan mengembangkan konsep dan generalisasi, sedangkan social studies bersifat pendidikan.

B.SARAN
Dengan pengajaran IPS, diharapkan siswa atau peserta didik dapat memiliki sikap peka dan tanggap untuk bertindak secara rasional dan bertanggungjawab dalam memecahkan masalah-masalah sosial yang dihadapi dalam kehidupannya. Selain itu siswa diharapkan mampu meningkatkan kemampuan bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, baik secara nasional maupun global.
Tak lupa Penulis memohon maaf apabila ada penulisan yang kurang benar dan penulis meminta kritik yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Terimakasih.

DAFTAR PUSTAKA

[4] Husein Achmad, dkk Pengantar Ilmu Pengetahuan Sosial(FKIS – IKIP
Jogyakarta. 1981).h.8 unit 1
(Bandung,1979)h.1
[9] Nursid Sumaatmadja., dkk.. Buku Materi Pokok Konsep Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial, Modul 1-3. (Jakarta : Karunika, Universitas Terbuka, 1986)h.7












Tag :

// Copyright © 2012 my blog //Anime-Note//Powered by Blogger // Designed by Johanes Djogan //